Potensi perairan laut yang dapat dimanfaatan untuk pengembangan usaha budidaya laut diperkirakan mencapai lebih dari 10 juta dan seluas 1,85 juta Ha, diperuntukan bagi pengembangan budidaya makroalga. Salah satu komoditas makroalga yang mempunyai nilai ekonomi penting dan budidayanya telah berkembang adalah jenis Kappaphycus alvarezii atau dulu lebih dikenal dengan nama Euchema cottonii (Doty 1985 dalam Sulistijo 1996).
Tentang Kappaphycus alvarezii atau di kenal dengan sebutan dulu Eucheuma cottonii
Tentang Kappaphycus alvarezii atau di kenal dengan sebutan dulu Eucheuma cottonii
Menurut Doty (1985), Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyceae) dan berubah nama menjadi Kappaphycus alvarezii karena karaginan yang dihasilkan termasuk fraksi kappa-karaginan. Maka jenis ini secara taksonomi disebut Kappaphycus alvarezii (Doty 1985). Nama dagang ‘cottonii’ umumnya lebih dikenal dan biasa dipakai dalam dunia perdagangan nasional maupun internasional.
(Morfologi)
Rumput laut merupakan makro alga yang hidup di laut yang tidak memiliki akar, batang dan daun sejati dan pada umumnya hidup di dasar perairan dan menempel pada substrat (benda lain). Fungsi dari akar, batang dan daun yang tidak dimiliki oleh rumput laut tersebut digantikan dengan thallus. Karena tidak memiliki akar, batang dan daun seperti umumnya pada tanaman, maka rumput laut digolongkan ke dalam tumbuhan tingkat rendah (Thallophyta).
Bagian–bagian rumput laut secara umum terdiri dari holdfast yaitu bagian dasar dari rumput laut yang berfungsi untuk menempel pada substrat dan thallus yaitu bentuk-bentuk pertumbuhan rumput laut yang menyerupai percabangan. Tidak semua rumput laut bisa diketahui memiliki holdfast atau tidak. Rumput laut memperoleh atau menyerap makanannya melalui sel-sel yang terdapat pada thallusnya. Nutrisi terbawa oleh arus air yang menerpa rumput laut akan diserap sehingga rumput laut bisa tumbuh dan berkembangbiak.
(Perkembangbiakan)
Pada rumput laut dikenal pola perkembangbiakan dengan pertukaran generasi antara vegetatif dan generatif. Rumput laut dapat berkembang biak secara generatif atau secara kawin. Pada peristiwa perbanyakan secara generatif rumput laut yang diploid (2n) menghasilkan spora yang haploid (n). Spora ini kemudian menjadi 2 jenis rumput laut yaitu jantan dan betina yang masing-masing bersifat haploid (n) yang tidak mempunyai alat gerak. Selanjutnya rumput laut jantan dan akan menghasilkan sperma dan rumput laut betina akan menghasilkan sel telur. Apabila kondisi lingkungan memenuhi syarat atau menghasilkan suatu perkawinan dengan terbentuknya zigot yang akan tumbut menjadi tanaman rumput laut (Meiyana, et al., 2001). Sedangkan untuk Proses perbanyakan secara vegetatif berlangsung tanpa melalui perkawinan. Setiap bagian rumput laut yang dipotong akan tumbuh menjadi rumput laut yang mempunyai sifat seperti induknya. Perkembangbiakannya bisa dilakukan dengan cara stek dari cabang-cabang rumput laut.
Syarat potongan rumput laut yang dikembangkan merupakan thallus yang muda, masih segar, berwarna cerah dan mempunyai percabangan yang banyak, tidak tercampur lumut atau kotoran, serta bebas atau terhindar dari penyakit (Meiyana, et al., 2001). Penggunaan bibit vegetatif tersebut sampai saat ini masih dianggap yang paling mudah dan menguntungkan dari segi efisiensi waktu, tenaga dan biaya dibandingkan dengan cara-cara generatif yang masih belum diterapkan secara masal karena pertimbangan teknis dan ekonomis yang dianggap belum menguntungkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar